Langkah Lynx dan Ling Mei semakin dalam memasuki dunia artefak yang penuh dengan atmosfer iblis. Setiap sudut yang mereka lewati seolah menyimpan bahaya yang tak terlihat.

Pepohonan di sekitar semakin aneh, batangnya hitam legam dengan akar menjalar seperti tentakel, menggeliat pelan seolah memiliki kesadaran. Daun-daunnya berduri, mengeluarkan suara gesekan halus saat tertiup angin.

Selama diperjalanan, Ling Mei merasa seolah dia pernah melakukan perjalanan seperti ini, hanya berdua.

Sementara itu, Lynx dari belakang melangkah mengikuti Ling Mei sambil mengenang saat dia dan Leena hanya berdua di pulau. Mereka terdampar ditempat itu tanpa saling mengenal. Namun karena merasa memiliki tujuan yang sama untuk kembali pulang, mereka saling bekerjasama dan cepat akrab. Biasanya, Lynx akan selalu didepan menjaga Leena, namun kali ini, Leena ada didepan menjaganya, itu jika memang wanita didepannya adalah Leena yang dikenalnya.

Ling Mei menguatkan genggaman pedang yang dibawanya, matanya terus mengamati sekitar dengan waspada. “Kita sudah berjalan cukup jauh, tapi aku belum melihat tanda-tanda Yin Yue.”

Lynx mengangguk pelan. “Mungkin dia menggunakan jalur yang berbeda, atau dia lebih dulu melewati tempat ini.”

Saat mereka terus berjalan, tiba-tiba Ling Mei menghentikan langkahnya. “Tunggu… Kau merasakannya?”

Lynx menyipitkan mata. Ada sesuatu yang berubah di udara, tekanan energi iblis yang sebelumnya terasa liar kini terasa… teratur.

Ling Mei menyadari sesuatu dan segera mundur selangkah. Namun terlambat. Tanah di bawah mereka mulai bergetar!

BOOM!

Dalam sekejap, sebuah pola formasi raksasa menyala di bawah kaki mereka! Cahaya merah gelap memancar dari simbol-simbol aneh yang terukir di tanah, membentuk lingkaran besar yang segera memancarkan gelombang energi kuat.

Lynx langsung melompat ke belakang, namun—

ZRRRT!

Sebuah dinding tak terlihat muncul, menghalanginya keluar dari area formasi!

“Kita terjebak!” Ling Mei berseru, menghunus pedangnya.

Tiba-tiba, tanah di sekitar mereka berubah. Formasi itu berpendar semakin terang, dan dalam hitungan detik, dunia di sekitar mereka mulai terdistorsi.

Langit berubah menjadi merah tua, pohon-pohon layu dalam sekejap, dan angin berhenti bertiup. Di depan mereka, bayangan-bayangan aneh mulai bermunculan, bentuknya samar seperti kabut yang menggumpal, tetapi mata merah mereka bersinar dengan kebencian yang luar biasa.

Ling Mei menggertakkan giginya. “Ini formasi perangkap!”

Lynx mengepalkan tangan, matanya meneliti sekeliling. “Formasi ini sepertinya jebakan yang dipersiapkan untuk melindungi tempat ini dari penyusup. Hati-hatilah Ling Mei, formasi ini bukan hanya ilusi. Energi ini terlalu pekat, kemungkinan juga sudah dipengaruhi energi iblis. Dan sepertinya jebakan ini bisa menyerap kesadaran kita.”

Ling Mei berusaha mengalirkan qi ke dalam tubuhnya, mencoba menstabilkan pikirannya. Tapi energi dalam formasi ini terlalu kuat ditambah oleh energi iblis yang ikut memperkuat formasi, qi miliknya terasa seperti ditelan oleh kekuatan yang lebih besar.

Sementara itu, bayangan-bayangan di sekitar mereka mulai bergerak. Beberapa di antaranya membentuk sosok yang lebih jelas, sosok manusia yang berlumuran darah, dengan tatapan kosong dan tubuh yang tertutup luka mengerikan.

Lynx mengernyit. “Mayat hidup?”

Ling Mei menggertakkan giginya. “Tidak… Mereka bukan makhluk nyata. Mereka adalah—”

Sebelum Ling Mei bisa menyelesaikan kalimatnya, salah satu bayangan melesat ke arahnya dengan kecepatan luar biasa!

CLANG!

Ling Mei berhasil menangkis serangan dengan pedangnya, namun hantaman itu begitu kuat hingga ia terdorong ke belakang beberapa langkah.

Lynx langsung bergerak, meninju ke arah bayangan yang menyerang Ling Mei. Namun, saat pukulannya mengenai tubuh makhluk itu—

ZRRRT!

Bayangan itu menghilang dalam sekejap, sebelum muncul kembali di sisi lain!

“Kau tidak bisa menyerang mereka secara langsung,” ujar Ling Mei, napasnya sedikit memburu. “Mereka adalah ilusi. Tapi serangan mereka nyata.”

Lynx menyipitkan mata. “Kalau begitu, kita harus menghancurkan inti formasinya.”

Namun, sebelum mereka sempat mencari titik lemah formasi, lebih banyak bayangan mulai bermunculan dari kegelapan.

Sosok-sosok itu mengerang dengan suara yang menyerupai bisikan, seolah-olah mencoba mengganggu pikiran mereka.

Ling Mei mulai merasakan sesuatu yang aneh. Tatapannya menjadi kabur. Di antara bayangan-bayangan itu, dia mulai melihat beberapa wajah yang familiar…

“Yun Qing?” gumamnya tanpa sadar.

Di hadapannya, seorang gadis dengan jubah putih berdiri di tengah kegelapan. Wajahnya lembut dan seorang pria sedang berada dibelakang memeluknya, Xiao Ling.

Xiao Ling membalikkan tubuh Yun Qing dan berciuman dengan mesra di depannya.

Ling Mei merasakan dadanya sesak tubuhnya gemar. “Xiao Ling… kamu... kamu... Bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu didepanku?”

Pria dan wanita dihadapannya tidak menghiraukan ucapan Ling Mei, mereka saling berciuman dan melepaskan pakaian. Xiao Ling mencumbu Yun Qing dan menciumi lehernya dan semakin kebawah.

Ling Mei melangkah maju, matanya dipenuhi emosi yang bercampur aduk. Tangannya yang memegang pedang terasa gemetar, air matanya keluar, dadanya terasa sangat sakit. Dia merasa ingin membunuh, namun bukan membunuh pria dan wanita didepannya, melainkan membunuh dirinya sendiri. Secara perlahan dia semakin mendekat kearah pria dan wanita yang saling bercumbu didepannya. "Xiao Ling..." katanya berbisik, air matanya masih mengalir di pipinya melihat pria di depannya bercinta dihadapannya.

“Ling Mei!” Lynx berseru, dia tidak mengetahui apa yang dilihat Ling Mei, tetapi Lynx mencoba menghentikannya. Lynx merasa sangat khawatir melihat sikap Ling Mei yang terus mengucapkan nama Xiao Ling dan mengeluarkan air mata. Namun, sebelum ia bisa mendekat—

SWOOSH!

Tiba-tiba, ilusi Li Wei berubah menjadi bayangan iblis yang melesat ke arah Ling Mei dengan cakarnya yang tajam!

Namun, kepekaan Ling Mei membuatnya tersadar tepat pada waktunya. Dia merasakan datangnya bahaya dan segera menangkis dengan pedangnya. Namun, serangan itu begitu kuat hingga tubuhnya terpental ke belakang, menabrak dinding formasi. Sementara bayangan tersebut langsung menghilang kembali.

“Argh!”

Lynx bergegas ke arahnya. “Kau baik-baik saja?”

Ling Mei mengusap sudut bibirnya yang berdarah. “Lepaskan aku! Jangan dekati aku! Dasar manusia berengsek!” Teriaknya dengan marah.

"Ling Mei, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tadi sudah masuk kedalam ilusi." kata Lynx dengan nada khawatir dan bingung. Ling Mei yang biasanya bersikap dingin, kini terlihat seolah ingin memakan dirinya.

"Apa yang terjadi? Kenapa dia menjadi sangat semarah ini kepadaku?" batin Lynx.

Ling Mei menyadari bahwa dia sebelumnya berada dalam ilusi, tapi rasa sakit yang dirasakannya nyata. Dia segera berdiri dan berusaha memalingkan wajahnya agar Lynx tidak melihatnya mengusap air matanya, atau lebih tepatnya lagi dia tidak ingin melihat wajah Lynx. Adegan didepannya masih sangat membekas dipikirannya, dan dia masih merasakan rasa sakit itu.

Lynx menatap sekeliling. “Ling Mei, formasi ini mencoba memainkan emosi kita… Jika kita tidak bisa mengendalikannya, kita akan terperangkap selamanya.”

Ling Mei mengambil napas dalam. “Aku akan mencari inti formasi ini dan menghancurkannya.” katanya dengan dingin.

Lynx mengangguk, namun punggungnya terasa dingin."Ada apa ini?" batinnya sambil menatap Ling Mei dengan perasaan takut.

“Ling Mei, aku punya cara.” Lynx menutup matanya sejenak, lalu dalam satu tarikan napas—

BOOM!

Gelombang energi tak kasatmata menyebar dari tubuhnya!

Dalam sekejap, semua ilusi di sekitar mereka bergoyang, seperti kabut yang tertiup angin.

Ling Mei melihat sekeliling dengan tajam. “Formasi ini goyah! Apa yang kau lakukan?”

Lynx membuka matanya kembali. “Aku menggunakan teknik pelepasan kesadaran. Sekarang, titik inti formasi ini harusnya bisa terlihat.”

Benar saja, di tengah formasi yang berpendar, mulai tampak sebuah batu hitam yang melayang perlahan. Batu itu dipenuhi dengan retakan merah menyala, memancarkan energi iblis yang berdenyut seperti jantung yang berdetak.

Ling Mei menyipitkan mata. “Itu dia!”

Namun, saat mereka hendak menghancurkan batu itu, tiba-tiba—

CRACK!

Dari dalam bayangan, sesuatu muncul.

Sebuah sosok tinggi dengan jubah hitam, wajahnya tersembunyi di balik kabut pekat. Tangannya yang panjang dan kurus mencengkeram udara, seolah memegang sesuatu yang tak terlihat. Sosok itu adalah wujud dari energi yang terbentuk untuk menjaga inti formasi.

Ling Mei segera memasang kuda-kuda. Tangannya memegang pedang dengan erat.

“Siapa kau?” tanya Lynx, matanya penuh kewaspadaan.

